MEMO AREMA- Jawa Pos Grup-Selasa, 27 Nopember 2012

 GURU HARUS MELEK TEKNOLOGI

Batu, Memo

Memperingati ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ke 67, Ketua PGRI Kota Batu Kawuri Idris mengaskan, saat ini para guru dituntut menjalankan profesinya secara profesional. Baik itu secara moril maupun penguasaan teknologi.

“Beberapa tahun lalu tuntutan guru mengarah kepada kesejahteraan. Sekarang, kesejahteraan itu sudah didapatkan dan sudah saatnya menjalankan kewajiban secara profesional,” ujar Kaswuri, Senin (26/11)

       Untuk guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang sudah menempuh sertifikasi memperoleh Tunjangan Profesi Pegawai (TPP) minimal satu kali gaji setiap bulan, sedangkan guru non PNS memperoleh Rp 1,5 juta per bulan.

       Ada empat tuntutan lainnya yang wajib dilaksanakan guru saat ini agar pendidikan di Kota Batu ini semakin maju. Tuntutan pertama mengenai pendidikan akhir guru minimal S1. Sementara di Batu masih banyak guru yang belum menempuh gelar tersebut.

       Kedua, menjaga moralitas guru sebagai orang yang menjadi panutan. Jika moral guru baik, maka siswa akan mencontoh perilaku tersebut. “Perlu kita ketahui, sebagian besar pahlawan kita dalah guru. Panglima Sudirman, Ki Hajar Dewantara, Soekarno juga anak seorang guru,” ia mencontohkan. Ketiga, guru patuh kepada aturan. Menurut Kaswuri, di kota ini masih banyak guru yang memanfaatkan koleganya sebagai pejabat di Pemkot maupun anggota DPRD. Kedekatan itu pun menyebabkan mereka melanggar aturan. Misalnya, perpindahan guru dari sekolah satu ke sekolah lain atau kenaikan jabatan, proses administrasi diabaikan.

       “Mereka meminta bantuan keada pejabat atau anggota DPRD untuk mempercepat. Ini kan tidak bagus,” terangnya.

       Keempat, profesional dan melek teknologi. Tingginya teknologi mau tidak mau harus diikuti guru. Dari sanalah, guru bisa menigkatkan keteampilan dan menambah pengetahuan untuk memperbanyak bahan ajar.

       “Kita tidak usah minder atau malu belajar dari teman atau siswa kita yang sudah melek teknologi. Sebab melek teknologi sudah menjadi tuntutan kita sebagai guru,” jelasnya

       Upacar ulang tahu PGRI akan diperingati di Pusat Pendidikanpertahanan udara (pusdik arhanud) Jl Hatta Desa Pendem. Usai apel itu, guru diajak melihat pertahanan milik TNI AU itu.

 

 

  1. A.  JUDUL: GURU HARUS MELEK TEKNOLOGI

 

  1. B.  KONTEKS KASUS:

 

Ketua PGRI Kota Batu menegaskan bahwa guru saat ini perlu untuk meningkatkan profesionalnya dalam menjalankan profesi tersebut hal ini disampaikan oleh Bapak Kawuri Idris bertepatan dengan peringatan ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang ke 67 pada tanggal 26 Nopember 2012. Karena saat beberapa tahun lalu, tuntutan guru yang mengarah pada kesejahteraan profesi guru telah diwujudkan. Kini dirasa hak tersebut sudah terwujud, maka guru-guru selayaknya menjalankan profesinya secara profesional. Dari segi jumlah gaji untuk guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan sudah menempuh sertifikasi mendapat Tunjangan Profesi Pegawai (TPP) minimal satu kali gaji tiap bulannya, sedangkan untuk guru non PNS memperoleh gaji sebesar Rp 1,5 juta per bulannya.

       Untuk tuntutan profesional seorang guru ada empat yang harus dijalankan, pertama ialah mengenai pendidikan akhir yang harus ditempuh oleh guru minimal S1, sementara di kota Batu sendiri masih banyak guru yang belum menempuh pendidikan gelar tersebut. Kedua, menjaga moralitas sebagai guru yang menjadi panutan muridnya. Ketiga, banyak sekali orang-orang yang menginginkan posisi menjadi guru tapi dengan cara pintas yaitu dengan tidak mematuhi prosedur administratif yang ada, tapi dengan meminta tolong pada kolega-kolega yang sudah menjabat di Pemkot ataupun bangku DPRD untuk mempercepat prosesnya. Dan yang keempat, tuntutan guru agar melek teknologi yang dirasa masih banyak guu belum memenuhi syarat tersebut. Tidak dipungkiri tuntutan media teknologi untuk menambah bahan mengajar sangat tinggi, mau tidak mau guru harus bisa mengikutinya dan jangan merasa malas serta malu dalam belajar teknologi kepada siapapun.

 

  1. C.  RUMUSAN MASALAH:

 

  1. Ada banyak guru yang belum menjalankan kewajiban secara profesional.
  2. Pendidikan akhir guru minimal S1, sementara di Batu masih banyak guru yang belum menempuh gelar tersebut. Atinya, masih banyak guru yang belum menempuh pendidikan S1 yang menjadi syarat utama profesi guru.
  3. Di kota Batu ini masih banyak guru yang memanfaatkan koleganya sebagai pejabat di Pemkot maupun anggota DPRD. Kedekatan itu pun menyebabkan mereka melanggar aturan. Misalnya, perpindahan guru dari sekolah satu ke sekolah lain atau kenaikan jabatan, proses administrasi diabaikan. “Mereka meminta bantuan keada pejabat atau anggota DPRD untuk mempercepat. Ini kan tidak bagus,” terangnya.
  4. Profesional dan melek teknologi. Masih banyak guru yang belum melek teknologi sebagai salah satu metode dalam menambah bahan dan kajian ilmu dalam mengajar.

 

 

  1. D.  ANALISIS SWOT:

 

  • Strenght (Kekuatan)
  1. Tuntutan guru tahun lalu mengenai kesejahteraan sudah didapatkan.
  2. Guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang sudah menempuh sertifikasi memperoleh Tunjangan Profesi Pegawai (TPP) minimal satu kali gaji setiap bulan.
  3. Guru non PNS memperoleh Rp 1,5 juta per bulan.

 

  • Wedgness (Kelemahan)
  1. Kurangnya profesionalitas guru meski kesejahteraan guru seperti gaji dan tunjangan telah terpenuhi.
  2. Dari keterangan yang diberikan narasumber, tersiratkan bahwa kesadaran diri tenaga pendidik baik PNS maupun non PNS masih belum ada, terutama mengenai teknologi.
  3. Dibalik kepribadian guru yang harus menjadi contoh siswanya, masih banyak guru yang belum bermoral baik, ditandai dengan adanya cara-cara instan kepada koleganya dalam mencapai kenaikan jabatan.

 

  • Opportunity (Kesempatan)
  1. Guru bisa sama-sama belajar kepada sesama teman seprofesi yang sudah mengikuti perkembangan teknologi maupun kepada siswanya yang sudah melek teknologi.
  2. Adanya tunjangan-tunjangan yang diberikan kepada guru, tunjangan tersebut bisa dimanfaatkan untuk melakukan pelatihan secara pribadi maupun secara kolektif bersama guru lain yang juga membutuhkan pelatihan.
  3. Pemerintah dapat melakukan program pelatihan serempak pada semua guru demi meningkatkan kualitas kerjanya.

 

 

  • Threat (Ancaman)
  1. Kurangnya sosok guru yang benar-benar bisa menjadi panutan bagi para siswanya.
  2. Kurang maksimalnya mencapai tuntutan teknologi masa kini dalam menambah khazanah belajar di dalam PBM.
  3. Kurangnya kesadaran guru dalam mematuhi peraturan dan pprosedur yang berlaku dapat menimbulkan krisis moral pada sosok guru yang selalu menjadi panutan.

 

 

  1. E.  KAJIAN TEORI

 

KOMPETENSI GURU

Dalam Penjelasan Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Pemerintah telah merumuskan empat jenis kompetensi guru yaitu:

  • Kompetensi Pedagogik (kemampuan dalam pengelolaan peserta didik) yang meliputi:

1. pemahaman wawasan atau landasan kependidikan;

2. pemahaman terhadap peserta didik;

3. pengembangan kurikulum/silabus;

4. perancangan pembelajaran;

5. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis;

6. evaluasi hasil belajar; dan

7. pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

 

  • Kompetensi Kepribadian (kemampuan kepribadian) yang harus:

1. mantap;

2. stabil;

3. dewasa;

4. arif dan bijaksana;

5. berwibawa;

6. berakhlak mulia;

7. menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat;

8. mengevaluasi kinerja sendiri; dan

9. mengembangkan diri secara berkelanjutan.

 

  • Kompetensi Sosial (kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat) untuk:

1. berkomunikasi lisan dan tulisan;

2. menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional;

3. bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik; dan

4. bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.

 

  • Kompetensi Profesional (kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam) yang meliputi:

1. konsep, struktur, dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/koheren dengan materi ajar;

2. materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah;

3. hubungan konsep antar mata pelajaran terkait;

4. penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari; dan

5. kompetisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional.

 

Kemampuan yang harus dimiliki guru dalam proses pembelajaran dapat diamati dari aspek perofesional adalah:

  1. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.
  2. Menguasai Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran/bidang pengembangan yang diampu.
  3. Mengembangkan materi pelajaran yang diampu secara kreatif. Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif.
  4. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri.

 

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru Dan Dosen. Pada BAB I, mengenai KETENTUAN UMUM Pasal 1, ayat:

 

(9) Kualifikasi akademik adalah ijazah jenjang pendidikan akademik yang harus dimiliki oleh guru atau dosen sesuai dengan jenis, jenjang, dan satuan pendidikan formal di tempat penugasan.

(10) Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.

Kemudian, pada BAB II KEDUDUKAN, FUNGSI, DAN TUJUAN Pasal 2, ayat:

 (2) Pengakuan kedudukan guru sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuktikan dengan sertifikat pendidik.

 

Serta pada BAB III PRINSIP PROFESIONALITAS yaitu Pasal 7, ayat:

(1) Profesi guru dan profesi dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai berikut:

  1. memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme;
  2. memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia;
  3. c.    memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas;
  4. d.   memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas;
  5. memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan;

 

Menurut Chan (2006, 57) mengenai masalah kuantitas dan kualitas guru saat ini, juga merupakan hal yang dilematis. Secara objektif jumlah guru saat ini memang kurang memadai, kemudian juga pada hal yang berkaitan dengan kuanlitas guru masih banyaknya kegiatan untuk menambah skill dan perfomance guru yang masih membebankan biayanya kepada guru.

 

 

  1. F.   ANALISIS

 

Dari permasalahan yag tersaji dari kasus diatas dan jika dibandingkan dengan kajian teori yang sudah ada, mengenai masalah jenjang pendidikan akhir yang harus ditempuh guru seharusnya pemerintah dapat mengambil tindakan yang tegas mengenai aturan yang jelas-jelas sudah tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru Dan Dosen, dengan adanya undang-undang tersebut sudah jelas dan tegas bahwa tidak sepatutnya seorang guru melanggar hal demikian demi sebuah jabatan atau profesi guru yang kini menjadi cita-cita kebanyakan orang. Segala sesuatu yang diinginkan bukan berarti harus menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya, apalagi dengan memanfaatkan teman, kolega maupun saudara yang sudah terlebih dahulu berkecimpung atau kedudukannya lebih tinggi, ini hal yang tidak pantas dan melanggar prosedur yang sudah ada. Bukankah aturan itu ada dan dibuat untuk dipatuhi, apalagi guru adalah seorang panutan oleh murid-muridnya.

            Kemudian ditambah lagi karena pengabaian prosedur dan aturan secara administratif untuk menjadi guru tadi, dampaknya ialah akan menimbulkan kurangnya kualitas guru dalam mengkaji ajaran yang berlaku sekarang, kurang siap dan kurangnya ilmu untuk mengajar, serta kebanyakan guru kurang mengerti mengenai teknologi yang berkembang di masa kini sebagai salah satu media pendukung pembelajaran. Meski terlihat remeh dan mudah di abaikan tapi dampaknya banyak sekali tehadap berlangsungnya proses pendidikan.

Saran yang dapat dilakukan untuk menangani masalah ini ialah pentingnya membangun kesadaran yang cukup tinggi dari pemerintah dan tokoh-tokoh dunia pendidikan untuk menyongsong abad baru ini agar tidak ada lagi kejadian pelanggaran prosedur administratif yang dilakukan guru dan dapat mewujudkan pendidikan yang lebih berkualitas, termasuk di dalamnya kepeduliaan wakil rakyat dalam menyuarakan dan mendorong perhatian yang lebih serius pada dunia pendidikan, jangan malah mendukung untuk melanggar aturan, meski kolega namun ketegasan bahwa segala sesuatu harus mematuhi prosedur dan sebagai warga negara yang baik harus mematuhinya. Ketidakcermatan dalam proses rekruitmen calon guru, proses penyiapan calon guru di jenjang pendidikan jabatan hingga proses rekuitmen, penempatan, pelatihan kerja dalam jabatan dan proses supervisi kinerja guru merupakan siklus yang perlu dibenahi dengan sungguh-sunggu secara berkelanjutan.

Untuk masalah yang berkaitan dengan kualitas guru, pada dasarnya peluang untuk membuat guru di Indonesia profesional dalam bidangnya dan mampu menguasai perkembangan teknologi masa kini itu ada. Tinggal bagaimana pemerintah melaksanakannya. Hal ini telah di dukung dengan adanya kebijakan pemerintah menaikkannya anggaran dari APBN. Kalau itu benar-benar dilaksanakan, diharapkan pembinaan guru dapat ditingkatkan melalui anggaran tersebut.

Sebenarnya dari sambutan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) pada Peringatan Hari Guru Nasional 2009, tanggal 25 November 2009, Mendiknas sudah mengutarakan bahwa dalam rangka peningkatan dan pengembangan kompetensi guru, saat ini juga sedang didesain pola pengembangan profesi berkelanjutan bagi guru-guru di seluruh tanah air. Dengan pola ini, diharapkan kompetensi dan kinerja guru terus meningkat sejalan dengan peningkatan jenjang jabatan fungsional dan pengalaman kerjanya.

Solusi lain juga bisa diterapkan, misal dengan penerapan budaya top down pada model keemimpinan untuk hal-hal yang positif pun tidak ada salahnya, setiap pemimpin yang bijaksana pasti mau dan mampu melihat kondisi bawahannya agar bagaimana caranya secara langsung daat meningkatkan kualitas bawahannya (dalam hal ini pemerintah mampu mengayomi dan menaruh perhatian penuh pada guru), karena bagaimanapun juga seorang guru harus mempunyai 4 kompetensi yang wajib dimilikinya sebagai seseorang yang bertugas mencetak generasi masa depan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

———————. 2012. Kompetensi Profesional Guru. (online). http://www.m-edukasi.web.id/2012/06/kompetensi-profesional-guru.html. Diakses tanggal 03 Desember 2012.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru Dan Dosen

Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan

About these ads